We lived in a home away from the hustle, the five of us stayed at home and we share a house together for payment. We're friends for a long time, because we were friends of the young, and now we always go together. We became like brothers. When we've been through is not easy, because our opinions with each other are very different, but we always find a way completion. Although the issue is so big we can always overcome it, the atmosphere is very impress, because we are not brother and sister but we can speak well if we have a problem, I'm very happy with this friendship. Sometimes siblings may not be forgiving if one of them do wrong. Our relationship is so incredible to me I really do not think we can be friends for longer than I expected. Last night I shared with my friends because I've got a job and a place that is outside the island. It saddened my heart, because I can not get along with them. And the saddest are a few days ago I had an accident that made my right leg I could not use for several weeks. Because this is my last night together with my friends then we made a small party, and I was deeply moved when they were together tools to make my feet so I can walk without difficulty. I could only sit and watch them being seriously made. With laughter they took out their creativity in making devices that, although only made of bamboo. Sometimes I also laughed along with them, because what they do very funny, until I did not feel tears in my eyes, I really love them, but tomorrow I should not be with them, my heart is happily mingled with sadness. But I'm sure that I will be with them again someday. Because our relationship has penetrated into the vein and will not be in separate forever.I watched them one by one from there who was busy making food, and there is smoke, there's a road going back and forth, and there are busy with making a stick for me . I rose from the place in which I sit, I headed over to the terrace house and pondered alone. Very beautiful tonight, my view of the sky of stars, I cried again. I thank God for all that He has given me. I have a life which is more than enough. Because the dinner is ready, then I was called by them to come in and eat together. Too bad I can not help them to prepare a parting night, but they understand the calamity that I get. Dinner was very special for me, they cooked my favorite foods, they knew that I could not eat seafood and fish, they cook chicken rica-rica favorite. I'm very happy, and I thank them, the great attention they gave me. One by one they began to ask me, 'tomorrow morning, may I take you to the airport?' 'Me too' 'everything'. With a smile I replied, 'of course, it will greatly make me happier. " 'How long you will be far from us?' 'I do not know, because I have to work. I'd love together with you, but I have dreams that I crave '' we know, we hope you'll keep yourself out there, especially not you ever go there and no family or friends who can take care of you '' I do not worry grow up, I can look after myself '' we believe you can, because we know who you are, we are only sad for your departure. "atmosphere became very quiet one by one they came to hug me and cry. Inside my heart I said, 'oh God I'm not strong when I saw them crying, I wish I could choose, I would choose to live together with them, but I have a dream life and I also want to reach out'. When dinner was over, we still want spoke together. And do not feel the time has shown two hours of the night, I decided to go to sleep. As I rose from my seat, one of them giving me stick their work, and told me to try it, until I get into my room. I also tried it, and when I'm right in front of my room, I turned to them and I say thank you very much. And they replied, 'are both, good night beautiful dream'. This morning I was ready to go to the airport, and it turns out they were ready before me. Very kind of them, we went by taxi to the airport, and it was time I said goodbye to friends who I care about. When I entered the airport, they were still waiting and looking at me very sad. I waved my hand for the last kalinya.Aku ready for flight, aircraft have started to run the engine, and I looked out the window and said, "goodbye my friends, one day we will be together again '.
Kami tinggal di rumah yang jauh dari keramaian, kami berlima tinggal dirumah ini dan kita membagi untuk pembayaran rumah bersama. Kita berteman sudah cukup lama, karena kita berteman dari masih kecil, dan sekarang kita selalu pergi bersama-sama. Kita menjadi seperti saudara. Saat yang kita lalui juga tidak mudah, karena pendapat kita satu dengan yang lain sangat berbeda, tetapi kita selalu menemukan jalan penyelesainnya. Meskipun masalah yang datang begitu besar kita selalu bisa mengatasinya, suasana ini sangatlah mengaharukan, karena kita bukanlah kakak dan adik tetapi kita bisa berbicara dengan baik jika kita mempunyai masalah, aku sangat suka dengan pertemanan ini,. Kadang kala saudara kandung belum tentu dapat memaafkan bila salah satu dari mereka berbuat salah. Hubungan kita ini sangatlah luar biasa bagiku, aku sungguh tidak mengira, kita bisa berteman lebih lama dari yang aku bayangkan. Malam terakhir aku bersama dengan teman-temanku karena aku telah mendapat panggilan kerja dan tempat itu ada di luar pulau. Sungguh sedih hatiku, karena aku tidak bisa bersama dengan mereka. Dan yang paling menyedihkan adalah beberapa hari yang lalu aku mengalami kecelakaan yang membuat kaki kananku tidak bisa aku gunakan untuk beberapa minggu. Karena ini malam terakhirku bersama dengan teman-temanku maka kita membuat pesta kecil-kecilan, dan aku sangat terharu pada saat mereka bersama-sama membuatkan alat untuk kakiku agar aku dapat berjalan tanpa harus kesulitan. Aku hanya bisa duduk dan melihat mereka sedang serius membuatnya. Dengan canda tawa mereka mengeluarkan kreativitas mereka dalam membuat alat itu, walaupun hanya terbuat dari bambu. Kadang aku juga ikut tertawa dengan mereka, karena apa yang mereka lakukan sangat lucu, sampai aku tidak terasa meneteskan air mataku, aku sangat sayang kepada mereka, tetapi esuk aku harus tidak bersama dengan mereka, hatiku bahagia bercampur dengan sedih. Tapi aku yakin bahwa aku akan bersama dengan mereka lagi suatu hari nanti. Karena hubungan kita sudah merasuk ke dalam urat nadi dan tidak akan dapat di pisahkan selamanya.Aku memandangi satu persatu dari mereka, ada yang sedang sibuk membuat makanan dan ada yang sedang merokok, ada yang jalan mondar mandir, dan ada yang sibuk dengan pembuatan tongkat untukku.Aku beranjak dari tempat di mana aku duduk, aku menuju ke teras rumah dan merenung seorang diri. Sangat indah malam ini, ku pandang langit yang bertaburan bintang, aku menangis lagi. Aku mengucap syukur kepada Tuhan atas semua yang telah Dia berikan kepadaku. Aku mempunyai kehidupan yang lebih dari cukup. Karena makan malam sudah siap, maka aku dipanggil oleh mereka untuk masuk dan makan bersama. Sayang sekali aku tidak dapat membantu mereka untuk mempersiapkan malam perpisahanku, tetapi mereka mengerti atas musibah yang aku dapatkan. Makan malam ini sangat istimewa untukku, mereka memasak makanan kesukaanku, mereka tahu bahwa aku tidak bisa makan seafood dan ikan, maka mereka memasak ayam rica-rica kesukaanku. Aku sangat bahagia, dan aku berterima kasih kepada mereka, atas perhatian yang besar yang mereka berikan untukku. Satu persatu mereka mulai bertanya kepadaku, ‘Besuk pagi bolehkah aku mengantarmu ke bandara?’ ‘aku juga’ ‘semuanya’. Dengan senyuman aku menjawab, ‘tentu saja, itu akan sangat membuatku lebih bahagia’. ‘berapa lama kamu akan jauh dari kita?’ ‘aku tidak tau, karena aku harus bekerja. AKu ingin sekali bersama dengan kalian, tetapi aku harus meraih impian yang aku dambakan’ ‘kita tahu, kita harap kamu akan jaga diri di luar sana, apalagi kamu belum pernah pergi kesana dan tidak ada keluarga atau teman yang bisa menjagamu’ ‘jangan kawatir aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri’ ‘kita percaya kamu bisa, karena kita tahu siapa kamu, kita hanya sedih untuk kepergianmu.’ Suasana menjadi sangat sunyi satu persatu mereka datang memelukku dan menangis. Di dalam hatiku aku berkata, ‘ya Tuhan aku tidak kuat saat melihat mereka menangis, andai saja aku dapat memilih, aku akan memilih tinggal bersama dengan mereka, tetapi aku mempunyai impian hidup dan aku juga ingin menggapainya’. Saat makan malam telah usai, kami masih ingin bebicara bersama. Dan tidak terasa waktu telah menunjukkan jam 2 malam, aku memutuskan untuk pergi tidur. Saat aku beranjak dari tempat dudukku, salah satu dari mereka memberikan tongkat hasil karya mereka kepadaku, dan menyuruhku untuk mencobanya, sampai aku masuk ke dalam kamarku. Akupun mencobanya, dan saat aku tepat di depan kamarku, aku menoleh kepada mereka dan aku mengucapkan terima kasih banyak. Dan merekapun menjawab, ‘sama-sama, selamat malam mimpi yang indah’. Pagi ini aku sudah siap untuk pergi ke bandara, dan ternyata mereka sudah siap sebelum aku. Sungguh baik hati mereka, dengan taxi kita pergi ke bandara, dan tiba saatnya aku mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman yang aku sayangi. Saat aku memasuki bandara, mereka masih menungguku dan memandangiku dengan sangat sedih. Aku melambaikan tanganku untuk yang terakhir kalinya.Aku siap untuk terbang, Pesawat sudah mulai menjalankan mesinnya, dan aku melihat keluar jendela dan berkata, “selamat tinggal teman-temanku, suatu hari kita akan bersama lagi’.
Margo menggeleng. Kembali bulu kuduknya meremang. “Kamu nggak nyiapin ikan buat aku?” Han melotot. “Nggak ada lagi orang yang berani memancing dan mencari ikan di sungai sejak saat itu. Mungkin karena semua membayangkan ikan-ikan disungai itu memakan bagian-bagian tubuh yang tertinggal di dasar sungai. Atau karena hantu-hantu itu? Dulu banyak orang memancing di malam hari, sekarang... jangankan memancing. Lewat di dekat sungai saja orang jadi enggan.” “Bukan enggan, tapi takut! Dasar!” Han mengeluarkan keluhan. Hilang sudah bayangannya tentang ikan bakar yang lezat yang beberapa kali pernah ia nikmati di Betal. “Siapa yang nggak takut, Han? Cuma orang gila macam kamu aja yang sok punya mental baja. Gerbong hantu itu bukan cuma isapan jempol belaka. Puluhan orang mengaku pernah melihatnya. Setiap malam gerbong hantu itu selalu melintasi dusun ini. Setiap malam!” “Kamu melihatnya sendiri?” Margo menggeleng. “Nah? Kamu belum pernah membuktikannya sendiri, tapi kamu percaya. Berkali-kali kubilang, segala cerita gaib macam itu hampir nggak pernah terbukti. Semua cuma ucapan dari mulut ke mulut yang penuh kebohongan dengan tujuan menakut-nakuti anak kecil. Kamu tahu tayangan-tayangan misteri di televisi itu? Semua bohong! Semua rekayasa kamera!” “Terserah kamu,” Margo berkata lirih. “Kita harus membuktikannya sendiri. Malam ini dan besok aku ingin membuktikannya sendiri. Itu bukan gerbong hantu. Itu memang hanya kereta api sungguhan yang melintas.” “Tapi nggak pernah ada lokomotifnya, Han. Mana ada gerbong bisa berjalan sendiri tanpa lokomotif dan kemudian menghilang begitu saja?” “Kita buktikan dengan mata kepala kita sendiri. Aku akan menghadapinya dan kamu merekamnya dengan handycam-ku.” “Aku hanya merekamnya. Tugasku hanya memegang handycam,” ulang Margo. “Ya. Kalau kamu takut, kamu boleh merekamnya dari jauh dan menggunakan zoom. Tapi pastikan kamu nggak out of focus. Pastikan kamu mendapatkan gambar yang sempurna.
Malam nanti akan ada bulan di langit yang ikut membantu memberikan cahaya untuk hasil rekaman yang lebih baik.” Margo mengangguk ragu. Han memang tak bisa dibantah. “Tapi... kuminta kamu nggak usah membicarakannya di depan orang tuaku. Mereka bisa pingsan mendengar niat dan tujuanmu kemari.” Han tersenyum puas. Sejak pukul 20.00 mereka sudah berada di tempat itu. Limapuluh meter dari rel lintasan kereta api, seratus meter dari jembatan tempat kejadian naas itu. Margo tak mau lebih dekat lagi, meski berkali-kali Han membujuknya. Pertama karena ia memang takut. Kedua, ia merasa perlu berlindung di balik pohon-pohon ketika merekam karena tak ingin menarik perhatian jika kebetulan ada orang yang melintas di tempat itu. Han berkali-kali tertawa kecil. Dia tetap berkeyakinan kedatangannya kemari hanya untuk membuktikan sebuah kebohongan. Gerbong hantu itu cuma cerita horor rekaan untuk menakut-nakuti orang bermental semut! Margo sudah siap dengan kameranya. Tinggal pijit satu tombol kapan pun diperlukan. Han gelisah, seperti tak sabar menunggu peristiwa yang luar biasa. Margo juga gelisah, keringat dingin merembes di tengkuknya, tangannya gemetar, kakinya juga. Han berkali-kali menengok ke arah lintasan kereta api yang kosong, memandang jauh ke arah selatan. Katanya dari sanalah gerbong-gerbong hantu itu muncul. Setengah jam berlalu, serasa seabad bagi Margo. Dan bagi Han itu adalah penantian yang amat menjengkelkan. “Mana? Mana gerbong hantu itu?” Han berlarian di dekat rel kereta api dengan kesal. Lalu kembali menemui Margo yang tetap berada di balik sebuah batang pohon yang cukup besar. “Mana?” “Mungkin sebentar lagi. Musibah itu terjadi sekitar jam sembilan malam. Orang-orang melihatnya juga sekitar jam sembilan malam.” Margo menaikkan retsleting jaketnya. Udara dingin, angin dingin membuat tubuhnya makin gemetaran. “Kamu tetap siap dengan kameramu?”Margo mengangguk. “Tapi aku makin ragu. Rasanya malam ini kita nggak akan mendapatkan apa-apa.”
Baru saja Han selesai berkata, tiba-tiba angin berhembus lebih kencang, meluruhkan daun-daun kering dari pohon besar tempat Margo berlindung. Han mendongak, menyaksikan bulan sabit yang semula menghiasi langit itu tiba-tiba menghilang ditutup awan hitam. Angin bertiup lebih kencang, meriapkan rambut Han. Margo berdiri mengigil. Jarinya yang memegang tombol record basah oleh keringat dingin. Dan... dari arah selatan sana, sebuah bayangan bergerak ke utara. Mengarah ke posisi mereka. “Gerbong hantu itu ...!” Margo berteriak, tapi suara yang keluar lebih mirip sebuah keluhan. Han cuma tertawa. “Pasti cuma kereta yang lewat. Kamu boleh mulai merekamnya. Sekarang!” Han lantas berlari mendekati rel kereta api, bersiap untuk menyongsong bayangan hitam yang kian mendekat itu. Tak ada sinar lampu, tak ada bunyi mesin. Cuma bunyi menderu, gesekan roda dengan rel besi. Tak ada lokomotif di depan rangkaian tiga gerbong itu! Han terbelalak dan tak berkedip. Dan sebelum ia mampu berpikir banyak, tahu-tahu gerbong-gerbong itu telah berhenti di depannya, menimbulkan bunyi yang menyakitkan telinga. Han berdiri dan tak mampu bergerak. Gerbong-gerbong yang semua gelap itu tiba-tiba terang-benderang. Lampu-lampu di dalamnya menyala cukup terang. Pintu-pintu gerbong terbuka serentak dan dari dalamnya berlompatan turun... Mulut Han terbuka lebar dan tak bisa tertutup lagi. Entah manusia atau apa, tapi makhluk tak berkepala itu berjalan tertatih-tatih ke arahnya. Di belakangnya menyusul seorang laki-laki separuh baya yang kepalanya mengucurkan darah. Baju putihnya bernoda warna merah. Darah! Sesosok tubuh kecil melompat dari atas gerbong dan jatuh terguling dan akhirnya berhenti di dekat kaki Han. Han menatap ke bawah, menyaksikan bocah kecil dengan tubuh yang tak utuh lagi itu mengerang kesakitan. “Papa... papa... mama... mama... sakiiit.... sakiiit...” Seorang perempuan yang lengan kirinya hilang sebatas siku berlari mendapatkan bocah kecil itu.
Bibirnya yang berdarah terbuka, matanya yang berlinang air mata dan darah menatap Han. “Tolonglah kami...” Dari gerbong terakhir melompat turun tiga orang yang tak kalah rusak tubuhnya. Tubuh-tubuh itu mengeluarkan bau anyir dan busuk. Mereka berlari tertatih-tatih dan tahu-tahu telah menyentuh lengan Han. “Di dalam banyak yang terluka... ” kata salah satu dari mereka.Tiga orang itu mendorong Han. Han ingin memberontak, tapi tangan-tangan penuh darah itu seolah melekat di lengannya. Han terdorong, dan tak punya pilihan lain kecuali mengikuti mereka untuk naik dan masuk ke dalam gerbong ketiga. Han menjerit meminta tolong. Hanya sekali, karena berikutnya sebuah tangan yang penuh lumpur telah mendekap mulutnya. Han didorong, masuk ke gerbong itu. Tiba-tiba lampu di ketiga gerbong mendadak padam. Makhluk-makhluk aneh itu berlompatan naik, seperti saling mendahului masuk kembali ke dalam gerbong. Sesaat kemudian ketiga gerbong itu mulai bergerak, berjalan pelan kemudian makin cepat dan akhirnya melesat menuju ke utara. Hanya dalam hitungan beberapa kali kerjapan mata, gerbong itu telah hilang di dalam kegelapan malam. “Haaaannn ...?!!!” Margo berlari ke tepi rel. Memandang ke arah mana gerbong-gerbong itu menghilang. “Han! Han...?! Haaaaannnn... !” kembali Margo berteriak histeris. Tak ada Han. Yang ada hanyalah kesunyian malam. Di sudut kamarnya, Margo terduduk di lantai yang dingin. Tangannya terlipat, memeluk kakinya yang tetap gemetar. Handycam itu masih menyala. Layar kecil itu masih menampilkan gambar-gambar buram dan gelap semata. Suasana di dekat lintasan kereta api yang sunyi. Hanya ada Han yang berlari-lari sendirian. Tak ada orang lain. Tak ada orang-orang dengan tubuh yang rusak berat itu. Tak ada anak kecil yang jatuh menggelinding ke dekat kaki Han. Tak ada gerbong-gerbong itu! Padahal Margo melihat semuanya. Margo yakin telah merekam semua kejadian itu dengan benar. Dimana makhluk-makhluk itu? Dimana gerbong itu? Pintu kamar Margo yang terkunci diketuk dari luar. Terdengar suara ibunya. Margo makin mengigil. Bapak dan ibunya, juga semua orang, sebentar lagi pasti akan menanyakan dimana Han. Lalu apa yang bisa ia katakan?Dimana Han?
Labels
- 3 (1)




